Politics

Opsi Baru Bagi Masyarakat Amerika – Lintar Satria

Sejak kuarter kedua tahun 2019 ini banyak mediamedia Amerika Serikat (AS) yang membahas bangkitnya sosialisme di Negeri Paman Sam. Kandidat calon presiden dari Partai Demokrat Bernie Sanders terang-terangan menyebut dirinya sebagai sosialis demokratik.

Kandidat lainnya Elizabeth Warren walaupun tidak menyebut dirinya sebagai sosialis tapi beberapa rencana yang ia ajukan sesuai dengan prinsip-prinsip sosialis. Seperti pajak tinggi untuk miliuner dan jaminan kesehatan nasional. Sebagian besar media menyebut mereka sebagai liberal progresif.

Pekan lalu #TooFarToLeft menjadi trending topik di media sosial Twitter setelah Mantan Presiden AS Barack Obama mengatakan ia khawatir pemilihan tahun 2020 terlalu ke ‘kiri’. Mereka yang menyerang inisiatif sosialis ini biasanya menggunakan data sejarah.

Seperti runtuhnya Uni Soviet dan Jerman Timur pada akhir 1980-an dan awal tahun 1990-an lalu. Tapi kerap mengabaikan masalah yang terjadi saat ini yaitu stagnasi pertumbuhan ekonomi yang diperburuk oleh krisis keuangan tahun 2008.

Hilangnya kepercayaan pada elit bisnis dan politik memicu bangkitnya sosialisme demokratik. Kini ideologi itu menjadi pilihan lain bagi pemilik hak suara di AS. Sebenarnya sosialisme bukan hal baru di AS. Kemungkinan gagasan kesetaraan ekonomi sudah ada di AS sebelum Karl Marx dan Frederich Engels mempopulerkannya di Eropa.

Kesetaraan ekonomi di AS sudah digagas Thomas Paine sejak tahun 1797. Sementara Marx baru lahir pada tahun 1818 dan Das Kapital volume I terbit pada tahun 1865. Pada tahun 1797 Paine menulis pamflet yang berjudul Agrarian Justice.

Dalam tulisannya itu Paine memberikan gagasan kesejahteraan radikal dan justifikasi filosofisnya. Ia memang sama sekali tidak menyebutkan sosialisme tapi banyak idenya yang sesuai dengan sosialisme.

Dalam buku The Origins of Universal Grants An Anthology of Historical Writings on Basic Capital and Basic Income yang disunting oleh John Cunliffe dan Guido Erreygers disebutkan Paine orang pertama yang memberikan gagasan untuk menyedikan uang tunai kepada semua dewasa muda. Agar semua orang memiliki warisan demi memulai kehidupan dewasanya.

Paine mengusulkan agar anggaran uang tunai itu didanai dari uang sewa pemilik tanah. Alasannya karena sumber daya alam milik semua orang.

Namun uang sewa tanah yang dikumpulkan ke pajak warisan juga akan mencerminkan peran masyarakat dalam membuat akumulasi properti pribadi memungkinkan. Walaupun tulisan ini Paine tunjukan untuk Inggris tapi karena ia orang Amerika maka gagasan ini juga menyebar di sana.

Gagasan kesetaraan ekonomi juga berasal dari para imigran Marxis yang mulai berdatangan ke AS. Paul Bulhe dalam bukunya yang berjudul Marxism in the United State: A History of American Left mengatakan Marxisme sudah tiba di AS sejak tahun 1865-an.

Gagasan Marxisme berasal dari imigran dari Jerman, Ceko, Finlandia, Polandia, Italia, Hungaria, Ukrainia, Slovekia, Lithuania dan negara-negara lainnya. Pada zaman itu banyak orang Eropa yang sudah mendengar Amerika tanah emas bagi imigran. Sehingga banyak kelas pekerja yang ingin berimigrasi ke sana terutama orang-orang yang mempunyai kerabat yang sudah menetap di Amerika.

Salah satu ketua kelompok sosialis yang terkenal Wilhelm Liebknech sempat meminta kelas pekerja Jerman untuk tetap bertahan di negara mereka. Ia mengatakan ‘tanah Amerika kami ada di Jerman’.

“Sosialis yang disingkirkan dari Eropa tampaknya meninggalkan perjuangan kelas dan rakyat pekerja biasa tampaknya juga melakukan itu. Imigrasi ke Dunia Baru berfungsi untuk melepaskan katup demi membebaskan tekanan ketidakpuasan kelas pekerja dan melestarikan kapitalisme di jantung Eropa,” tulis Paul Buhle.

Pada akhir tahun 1890-an perekonomian AS meledak. Banyak elit yang mengusai sumber daya semakin kaya. Mereka yang tersingkir menyatakan para elit itu adalah kapitalis musuh rakyat.

Lalu terbentuklah Partai Sosialis Amerika pada tahun 1901. Partai itu sempat memenangkan beberapa pemilihan lokal bahkan maju dalam pemilihan presiden pada tahun 1912.

Tapi Perang Dunia I meletus dan Uni Soviet yang komunis-sosialis menimbulkan kengerian terhadap ideologi itu. Lalu terjadi Depresi Besar pada tahun 1929 di susul Perang Dunia II lima belas tahun kemudian.

Paska Perang Dunia II kata sosialisme menjadi kata yang menakutkan. Tapi berubah ketika Sanders mencoba maju dalam pemilihan umum 2016. Meskipun Hillary Clinton mengalahkannya dalam primary Partai Demokrat tapi Sanders tetap mendapatkan banyak dukungan.

Kini Sanders membuat sosialisme demokratik menjadi opsi baru untuk menyelesaikan masalah ekonomi di Amerika dan dunia. Dalam buku Building the New American Economy Smart, Fair, and Sustainable ekonom Jeffrey D. Sachs mengatakan pendapatan rata-rata rumah tangga Amerika mengalami stagnasi sejak tahun 1990-an. Sachs menambahkan untuk pendapat rumah tangga miskin yang disesuaikan dengan inflansi mengalami stagnasi lebih lama lagi, kira-kira selama empat puluh tahun.

“Sementara itu distribusi pendapatan rumah tangga di atau dekat bagian atas menikmati peningkatan standar hidup yang cukup besar. Hasilnya adalah kesenjangan yang cukup besar antara rumah tangga kaya dan miskin. Jelas mereka yang tertinggal memicu kampanye Donald Trump dan Bernie Sanders,” tulis Sachs.

Sementara Trump menggunakan kebijakan protektif seperti yang dilakukan Undang-Undang Smoot-Hawley tahun 1930 yang menaikkan tarif terhadap lebih dari 20.000 barang-barang impor demi mengatasi Depresi Besar. Sanders membawa pesan baru, yaitu penguatan ekonomi bagi masyarakat kecil dan menengah.

Dalam wawancaranya dengan John Harwood di stasiun televisi CNBS pada 29 Oktober lalu Bernie Sanders mengatakan dalam 45 tahun terakhir rata-rata buruh Amerika tidak melihat inflansi berpengaruh pada kenaikan gaji mereka. Padahal ada ledakan produktivitas dan teknologi di mana-mana.

“Di mana Anda memiliki sistem politik yang benar-benar korup dan dimiliki para miliuner, di mana begitu banyak korupsi perusahaan, saya pikir sekarang waktunya, jika ingin menyelamatkan negara ini, untuk revolusi politik,” kata Sanders.

Ini bukan hanya tentang lebih banyak regulasi, kata Sanders, ini tentang melibatkan jutaan orang, kelas pekerja, orang muda, orang-orang yang percaya pada keadilan, dan proses politik. Selain itu juga untuk memberitahu elit korporasi untuk berhenti mengeruk keuntungan dari orang banyak.

“Kami akan mengubah sistem politik, ekonomi. Kami akan mengubah sistem nilai di negara ini. Kami tidak akan lagi memuja miliuner korup lagi, kami akan menghormati guru dan pekerja anak dan polisi dan pemadam kebakaran dan usaha kecil menengah. Itu kampanye kami, saya yakin ini unik,” katanya.

Seperti kata Sachs kampanye Sanders menggugah banyak kelas pekerja terutama dewasa muda yang tersingkir dalam sistem kapitalisme neoliberal. Janji-janji Sanders seperti penghapusan hutang biaya kuliah, jaminan kesehatan nasional, dan perumahan terjangkau menarik segmen ini.

Dalam bukunya Bernie Sanders Guide to Political Revolution, Sanders berjanji untuk menaikan upah minimum dari 7,25 dolar AS per jam menjadi 15 dolar AS agar disesuaikan dengan standar biaya hidup di AS sekarang. Ia juga kerap menyatakan kini AS negara terkaya di dunia.

Sehingga mampu untuk mencukupi kebutuhan semua warganya. Masalahnya adalah, kata Sanders, distribusi kesejahteraan yang tak merata. Para miliuner tidak membayar pajak mereka.

Mengutip laporan UC Berkeley Center for Labor Research and Education tahun 2015, Sanders mengatakan dari tahun 2009 sampai 2011 setiap tahun pembayar pajak di AS menghabiskan 153 miliar dolar AS untuk mensubsidi perusahaan yang tidak menggaji karyawannya dalam jumlah yang tak memadai. Sanders menambahkan ia percaya pemerintah memiliki tanggungjawab kepada mereka yang rentan seperti anak-anak, orang lanjut usia, mereka yang sakit dan difabel.

“Tapi saya tidak percaya pemerintah harus membebankan pembayar pajak untuk menunjang keuangan perusahaan menguntungkan yang dimiliki beberapa orang terkaya di negeri ini. Itu absurd. Dan kemudian ada organisasi terbesar yang membayar gaji rendah di Amerika. Bukan Walmart, McDonald atau Burger King. Organisasi itu pemerintah Amerika Serikat,” tulis Sanders.

Retorika-retorika Sanders sesuai dengan harapan kelas pekerja AS saat ini. Kebijakan proteksionisme Trump tidak berhasil meningkatkan taraf hidup kelas bawah AS. Justru menciptakan gejolak perekonomian global yang dapat berakibat buruk dalam jangka panjang.

Karena itu suara populis mengambang yang sebelumnya memilih Trump. Dapat berpaling ke Sanders sebagai opsi baru dalam mengatasi kesenjangan kemakmuran.

Pesona Bernie Sanders

Ekonom Jeffrey D. Sachs dalam bukunya Building the New American Economy : Smart, Fair, and Sustainable menulis salah satu alasan Washington mengalami kebuntuan selama bertahun-tahun. Menurutnya karena Partai Republik maupun Partai Demokrat mengejar visi yang sangat cacat untuk Amerika Serikat (AS).

Partai Republik telah menyerukan peran pemerintah yang lebih sedikit. Tapi tepat ketika Amerika membutuhkan pemerintah untuk melakukan lebih banyak lagi.Terutama dalam mengatasi lambatnya pertumbuhan ekonomi, ketidaksetaraan kemakmuran, dan kerusakan lingkungan yang mematikan.

Sementara Demokrat menyerukan peran pemerintah yang lebih besar. Tapi mereka juga tidak memikirkan prioritas, pengelolaan dan pendanaan yang jelas untuk melakukan hal itu. Menurut Sachs, Demokrat juga tidak memiliki visi yang jelas dalam mengatasi masalah pelik yang kini dialami Amerika, yaitu kesenjangan kesejahteraan.

Sachs menjelaskan ada tiga faktor yang berperan dalam kesenjangan ekonomi yang terjadi di AS saat ini. Yaitu teknologi, perdagangan dan politik. Perkembangan teknologi meningkatkan permintaan tenaga kerja terampil. Tapi biaya sekolah perguruan tinggi sangat mahal.

Perdagangan AS pun mengalami kesulitan karena perusahaan-perusahaan besar lebih memilih berinvestasi ke luar negeri karena buruh murah. Selain itu politik di AS pun dikuasai perusahaan besar dan menjauh dari serikat buruh. Sehingga tidak membela pihak yang lemah.

Bernie Sanders menjadi harapan kelas pekerja AS. Visinya baik pada pemilihan presiden tahun 2016 maupun 2020 sangat jelas. Heather Gautney dalam buku Crashing the Party : From the Bernie Sanders Campaign to a Progressive Movement menulis kampanye Sanders menyoroti kepentingan kelas.

“Demokratik sosialisme yang diajukan Bernie mencakup serangkaian kebijakan yang bertujuan untuk menghapus kemiskinan, membangun kembali kelas pekerja, kembali berinvestasi dalam institusi publik dan meraih distribusi kekayaan yang lebih adil di Amerika,” tulis Gautney.

Kerangka kerja yang jelas ini membuat Sanders terus mendapat berbagai dukungan. Tidak hanya dari kelas kerah biru. Tapi juga bintang pop seperti Cardi B dan Ariana Grande.

Tantangan Terbesar Bernie Sanders

Masalah terberat dari Bernie Sanders adalah kata ‘sosialisme’ dalam sistem sosialisme demokratik yang ia usung. Ia berkali-kali menegaskan dua hal itu sesuatu yang sangat jauh berbeda. Sanders selalu mencontohkan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Franklin Delano Roosevelt (FDR) sebagai seorang sosialis demokratik.

Dalam pidatonya di George Washington University 12 Juni lalu Sanders mengisyaratkan sosialisme demokratik bukan hal baru bagi rakyat AS. Ia mengatakan Second Bill of Rights yang diajukan FDR berciri demokratik sosialisme.

FDR mengajukan hak pekerja layak dengan upah layak, hak perawatan kesehatan yang berkualitas, hak pendidikan lengkap, hak perumahan terjangkau, hak lingkungan bersih dan hak pensiun yang terjamin. Sanders mengatakan sudah waktunya untuk melaksanakan cita-cita FDR tersebut.

“Dan saya perjelas, satu-satu cara untuk meraih cita-cita ini melalui revolusi politik, di mana jutaan orang terlibat dalam proses politik dan mengklaim kembali demokrasi kami dengan berani mengambialih kepentingan korporasi kuat yang keserakahannya menghancurkan tatanan sosial dan ekonomi dan negara kami,” kata Sanders.

Dengan fakta sejarah itu Sanders berani mendeklarasikan dirinya sebagai demokratis sosialis. Karena demokratik sosialisme memang berbeda dari sosialisme.

The Encyclopedia of Political Science menyebutkan sosialisme demokrasi berbeda dengan sosialisme yang biasanya otoriter. Menurut Brian Caterino yang menjelaskan istilah ini dalam The Encyclopedia of Political Science, sosialisme demokratik muncul pada abad ke-20.

Ketika Uni Soviet dan pengaruhnya membuat sosialisme seakan-akan harus otoriter. Dalam sosialisme otoriter pengaruh negara sangat kuat. Negara sosialis otoriter mengintervensi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya ekonomi tapi juga komunikasi, budaya, dan sosial.

Sosialisme demokrasi menolak otoritarianisme. Mereka tidak mencoba mengubah negara menjadi kediktatoran proletariat sementara tapi bentuk otonom yang membutuhkan demokrasi.

“Walaupun sosialisme demokrasi menolak model revolusioner dan mengadvokasi transformasi menuju masyarakat sosialis melalui demokrasi, mereka juga menolak pandangan demokrasi sosial bahwa masyarakat kapitalis dapat direformasi melalui intervensi negara yang luas dalam kapitalisme,” tulis Caterino.

Demokratis sosialisme menolak teori revolusi Karl Marx dan idenya tentang negara kediktatoran. Kini Sanders harus memastikan masyarakat Amerika memahami perbedaan itu.

nb: Sudah pernah dimuat di koran Republika pada 27 November 2019


Source link
Tags
Show More
Back to top button

Pin It on Pinterest

Share This

Share this post with your friends!

Close